Level Pendidikan tak Pengaruhi Mudahnya Seseorang Terdoktrin

Personel Brimob bersiaga saat dilakukannya penggeledahan oleh Tim Densus 88 di kediaman terduga pelaku bom bunuh diri Polrestabes Surabaya, di Tambak Medokan Ayu, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (15/5). Sejumlah barang bukti bahan peledak diamankan dalam penggeledahan itu. ANTARA FOTO/Didik Suhartono/foc/18.
Personel Brimob bersiaga saat dilakukannya penggeledahan oleh Tim Densus 88 di kediaman terduga pelaku bom bunuh diri Polrestabes Surabaya, di Tambak Medokan Ayu, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (15/5). Sejumlah barang bukti bahan peledak diamankan dalam penggeledahan itu. ANTARA FOTO/Didik Suhartono/foc/18.

Psikolog menilai kekuatan nilai kebaikan berperan lebih signifikan.

Fenomena munculnya pelaku aksi bom bunuh diri yang dilakukan oleh satu keluarga, termasuk anak-anak usia belia, mencengangkan dunia. Judul pelaku bom anak-anak menjadi ulasan utama media di seluruh dunia.

Publik pun bertanya. Bagaimana bisa seorang ayah dan ibu rela mengorbankan anak-anaknya sendiri untuk diledakkan bersama bom yang menempel di tubuh mereka. Masyarakat mempertanyakan juga bagaimana satu keluarga bisa terdoktrin hingga melakukan bom bunuh diri.

Psikolog dari Universitas Mercu Buana, Tika Bisono, menjelaskan rendah tingginya pendidikan seseorang tidak berperan banyak dalam menentukan apakah seseorang mudah terdoktrin atau tidak. Kekuatan nilai kebaikan yang dianut dan pola pikir memegang peranan lebih signifikan.

Apabila seseorang dengan pendidikan rendah menganut nilai kebaikan yang kuat, ia cenderung mampu membedakan antara realita dengan non realita. “Dampaknya, orang tersebut jadi sulit untuk diajak mengikuti suatu ajaran, prinsipnya sulit dibalik-balikkan,” ujar Tika ketika dihubungi Republika.co.id, Selasa (15/5).

Tapi, pendidikan rendah diakui Tika memang berbanding lurus dengan akhlak rendah, pola pikir pendek, dan berpikiran bahwa uang adalah jalan keluar untuk segala permasalahan. Sehingga orang tersebut akan mudah terdoktrin. Karakter inilah yang kerap menjadi target para pimpinan terorisme untuk mengorbankan diri demi kepentingan kelompok semata.

Dalam menyebarkan doktrin, pelaku biasanya memiliki berbagai jalur, termasuk melalui kumpulan kecil kemasyarakatan. Mereka bergerak dalam kehidupan sehari-hari, bersifat terbuka dan sederhana. “Misalnya saja melalui kegiatan ngopi-ngopi di pusat grosir atau kehidupan malam para geng preman dan anak muda,” ucap Tika.

Dengan teknik yang halus, lembut dan menyentuh keseharian itu, doktrin justru mudah masuk ke berbagai kalangan. Terlebih, penyebar doktrin biasanya mudah berbaur dengan masyarakat.

Tika menuturkan, apabila tidak segera dilakukan penyisiran, akan sangat berbahaya karena doktrin yang salah bisa menyentuh ke kelas bawah, menengah, hingga atas.

Tiga aksi bom bunuh diri yang terjadi Ahad (13/5), pelakunya merupakan satu keluarga dengan empat anak. Bahkan, dua anak remaja keluarga tersebut beraksi sendiri tanpa orang tuanya.

Bom yang meledak tanpa direncanakan di Sidoarjo juga terjadi kediaman sebuah keluarga dengan anak-anak. Sedangkan bom di Poltabes Surabaya, Senin (14/5), dilakukan oleh satu keluarga dengan tiga anak-anak.

Sumber: Republika